Showing posts with label Ziarah Spiritual. Show all posts
Showing posts with label Ziarah Spiritual. Show all posts

Kramat Tajug Cilenggang

Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) yang juga salah satu dari panglima perang Kerajaan Banten yang dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa mendapatkan tugas untuk membantu rakyat di Tangerang tepatnya di Benteng Selatan dalam melawan penjajahan Belanda sekaligus menyiarkan agama Islam.

Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) sendiri adalah putra dari Sultan Ageng Tirtayasa yang ke enam. Sultan Ageng Tirtayasa sendiri berputrakan sembilan anak yaitu :

1. Sultan Haji
2. Pangeran Purbaya
3. Pangeran Setiri
4. Pangeran Jogya
5. Raden Shoheh
6. Reden Muhammad Atief (Tubagus Atief)
7. Ratu Ayu
8. Ratu Fatimah
9. Ratu Komala (meninggal sewaktu kecil)

Setelah menyelesaikan tugasnya Di Benteng Selatan kemudian Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) kembali ke Banten dan mendapatkan gelar Tubagus Wetan dari ayahandanya sendiri Sultan Ageng Tyrtayasa. Karena jasa-jasanya kepada masyarakat disini maka masyarakat disini menikahkan Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) dengan Siti Almiyah wanita asli Desa Cilenggang ini dengan mas kimpoinya Masjid Jami Al Ikhlas (dahulu Surau atau Tajug) yang sekarang masih berdiri.


Dikarenakan kondisi kesultanan Banten yang sedang mengalami kekacauan pada waktu itu yaitu adanya konflik antara Sultan Ageng Tyrtayasa dengan putranya sendiri Sultan Haji, hal ini menimbulkan kesulitan kepada Raden Muhammad Atief untuk memihak, maka Sultan Ageng Tyrtayasa memerintahkan kepada Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) untuk tinggal di Desa Cilenggang dengan membawa adiknya Ratu Ayu sambil tetap menyebarkan Agama Islam disini.

Dalam wasiatnya sebelum wafatnya kepada anak cucunya seandainya beliau wafat agar dimakamkan di dalam Surau atau Tajug (budaya masyarakat waktu itu dalam menyebut Surau) bersama dengan Ratu Ayu adik beliau yang wafat lebih dahulu. Dewasa ini masyarakat Desa Cilenggang pada khususnya dan masyarakat lain pada umumnya menyebut dengan istilah Kramat Tajug.

Asal muasal Gunung Puyuh Kramat Tajug

Dahulu Surau atau Tajug yang didirikan oleh Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) berdiri ditanah yang datar dan dikelilingi oleh persawahan. Ketika Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) dimakamkan di dalam Surau ini sesuai dengan wasiatnya, sebelumnya adik beliau Ratu Ayu juga dimakamkan disini. Maka lama kelamaan tanah yang tadinya datar berubah semakin meninggi yang sekarang dikenal oleh sebagian orang sebagai Gunung Puyuh. Tidak banyak orang mengetahui hal ini selain dari anak cucu keturunan Raden Muhammad Atief atau lebih dikenal sebagai Tugabus (Tb) Atief. Luas Gunung Puyuh ini diperkirakan sekarang mencapai sekitar dua hektar.

Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) menikah dengan Siti Almiyah memiliki empat putra yaitu :

1. Tubagus (Tb) Romadhon (dimakamkan di Kalipasir – Tangerang)
2. Tubagus (Tb) Arfah (dimakamkan di Kramat Tajug – Desa Cilenggang)
3. Tubagus (Tb) Raje (dimakamkan di Desa Kadubumbang - Cimanuk, Pandeglang)
4. Tubagus (Tb) Arja (dimakamkan di Gunung Sindur – Desa Jampang)

Keanehan lainnya adalah luas tanah dari Kramat Tajug yang sejak zaman dahulu juga berfungsi sebagai tempat pemakaman warga atau masyarakat Desa Cilenggang seakan tidak pernah sempit atau selalu cukup untuk dijadikan areal pemakaman baik oleh anak cucu dari Tubagus (Tb) Atief maupun oleh warga Desa Cilenggang sendiri.

Untuk menjaga kelestarian dari Kramat Tajug ini telah didirikan Yayasan Tubagus Atief yang diketuai oleh H. Tubagus (Tb) Imammudin dan juga Paguyuban Keluarga Muhammad Atief yang diketuai oleh H. Tubagus (Tb) Muin Basyuni dan Sekertaris Umumnya Tubagus (Tb) Moh. Sholeh Sutisna atau lebih dikenal dengan panggilan Sos Rendra

Sampai saat ini ritual ziarah masih sering dilakukan oleh keluarga dari Kramat Tajug. Setiap minggu ketiga pada setiap bulannya H. Tubagus Imammudin yang juga Ketua dari Yayasan Tubagus Atief memimpin sekitar 300 orang dari keturunan Kramat Tajug untuk ziarah dan tahlil. Dan setiap tanggal empat belas di bulan Maulid diadakan pencucian benda-benda milik dari Raden Muhammad Atief atau Tubagus (Tb) Atief.

Sampai sekarangpun masih banyak dari warga disekitar Desa Cilenggang dan masyarakat umum bahkan dari luar jawapun banyak yang datang untuk melakukan ziarah dan tirakat di Kramat Tajug.


Ziarah ke Makam Embah Kuwu Sangkan

Ziarah atau berkunjung ke makam pada dasarnya merupakan salah satu rangkaian kegiatan religius manusia. Rachmat Subagio (1980) mengartikan bahwa ziarah mengandaikan kondisi manusia sebagai pengembara di dunia yang hanya mampir ngombe. Ziarah menuju ke tempat suci, pepundhan, pura, watu kelumpang, makam leluhur, nenek moyang atau cikal bakal desa. Orang yang berziarah ke makam pada umumnya dihubung-kan dengan tokoh orang keramat yang dimakamkan di tempat itu. Dalam kepercayaan orang Jawa, yang Koentjaraningrat menyebutkan dengan istilah agami Jawa (1984:325) yang termasuk orang keramat antara lain guru-guru agama, tokoh-tokoh historis maupun setengah historis, tokoh-tokoh pahlawan dari cerita mitologi yang dikenal melalui pertunjukan wayang dan lain-lain, juga tokoh-tokoh yang menjadi terkenal karena suatu kejadian tertentu.

Bagi orang yang memiliki kesenangan melakukan ziarah ke tempat-tempat yang mereka anggap sebagai makam ulama, wali maupun makam tokoh sejarah yang telah memiliki pengaruh kuat di suatu daerah seperti halnya makam keramat Embah Kuwu Sangkan di Kampung Talun, Desa Cirebon Girang, bukanlah tempat yang asing.

Para peziarah seperti ini umumnya telah mengetahui kekeramatan tokoh yang dimakam-kan di tempat ini. Bahkan peziarah seperti ini melakukan ziarah secara berantai dari suatu makam keramat ke makam keramat yang lainnya.

Riwayat Embah Kuwu Sangkan
Embah Kuwu Sangkan adalah anak pertama Prabu Siliwangi dari hasil perkawinan dengan Nyai Mas Subanglarang, yaitu putri Mangkubumi Mertasinga Cirebon. Embah Kuwu Sangkan dilahirkan pada tahun 1423 Masehi di keraton Pajajaran. Semasa remajanya ia bersama adiknya bernama Nyai Mas Ratu Rara Santang pergi meninggalkan keraton Pajajaran, karena mereka memiliki keyakinan yang berbeda dengan ayahnya.

Dalam pengembaraannya, mereka mencari seorang guru yang sesuai dengan petunjuk dalam mimpinya. Mereka bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw yang memerintahkan untuk mencari ajaran syariat Islam yang dapat menyelamatkan manusia di dunia maupun di akhirat. Akhir dari pengembaraannya, dan berdasarkan beberapa petunjuk, akhirnya mereka bertemu dengan Syech Nurul Jati di Gunung Jati yang mampu mengajarkan syariat Islam di antaranya mengajarkan tentang Dua Kalimah Syahadat, Sholawat, membaca Al-Qur’an, Dzikir, Sholat, Zakat, Puasa , Kitab Piqih, Ibadah Haji dan lain sebagainya.

Setelah dianggap cukup menimba ilmu tentang Syariat Islam, akhirnya ia diberi kesempatan oleh Syech Nurul Jati untuk menyebar-kan ajaran Islam dan membuka pemukiman baru baik di wilayah Cirebon maupun daerah sekitarnya.

Motivasi Peziarah
Peziarah datang berkunjung dengan rombongan besar maupun perorangan tentu didorong oleh berbagai motivasi atau niat yang berlainan antara satu dengan lainnya, yang masing-masing mempunyai motivasi yang belum tentu sama, tergantung apa yang akan “diminta dan kepentingan”. Peziarah yang datang berkunjung ini kebanyakan mendengar dan diberitahu oleh teman, tetangga atau kerabatnya tentang “kekeramatan, karisma” Embah Kuwu Sangkan yang dapat memberi harapan untuk hidup yang lebih baik dan lain sebagainya Motivasi mereka untuk berziarah itu ada karena kemauan sendiri, tetapi ada juga yang diajak atau dianjurkan teman, tetangga atau kerabatnya yang merasa berhasil. Oleh karena itu, cara mereka berkunjung itu ada yang seorang diri, mengajak teman atau saudara, ada pula secara berombongan.

Peziarah yang mengunjungi tempat keramat, termasuk mereka yang datang ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan pada umumnya dilandasi oleh niat, tujuan yang didorong oleh kemauan batin yang mantap.

Berdasarkan kenyataan di-lapangan terdapat berbagai macam motivasi para peziarah datang ke makam keramat tersebut. Salah satu di antara motivasi peziarah datang berkunjung ke makam Embah Kuwu Sangkan adalah untuk menenangkan bathin. Motivasi ini didukung oleh persepsi yang menyebutkan bahwa makam Embah Kuwu Sangkan itu adalah tempat yang sakral. Para peziarah merasa menemukan tempat yang cocok dengan maksud atau niat mereka datang ke tempat ini.

Bapak Ukri (bukan nama sebenarnya) yang berusia 53 tahun, adalah peziarah dari Indramayu menjelaskan, “saya ke ke tempat ini bermaksud menenangkan bathin, karena banyak masalah yang mengganggu pikiran saya”. Ia yang berprofesi sebagai pedagang onderdil motor bekas. Dalam kehidupan keluarga ada permasalah yang melilit, di antaranya selain usahanya bangkrut juga ia perlu biaya untuk anak. Selama di makam keramat ini ia sudah melakukan puasa selama 37 hari. Menurutnya, ia berpuasa atas kemauan sendiri. Selain berpuasa. Ia melakukan sholat malam atau Sholat Tasbih, kemudian dzikir. Setelah beberapa kali melakukan kegiatan tersebut, Bapak Ukri sedikit demi sedikit pengalami perubahan dalam kehidupannya, bahkan akhirnya ia mendapat pekerjaan diperusahaan swasta. Selanjutnya, menurut bapak Ukri , ia selalu melaksanakan wirid, di antaranya :

Wirid sebelum sholat fardu (qobla) dan sesudah sholat fardlu (ba’da) yang lima waktu, yaitu 2 s/d 4 rakaat sebelum dan sesudah sholat Maghrib, 2 s/d 4 rakaat sebelum dan sesudah sholat Isya, 2 s/d 4 rakaat sebelum dan sesudah sholat Subuh, 2 s/d 4 rakaat sebelum dan sesudah sholat dhuhur, 2 s/d 4 rakaat sebelum sholat Ashar.

Sesudah matahari naik sepenggal kira-kira pukul 06.00, shalat Isroq, Isti’adah dan Istikharah.
Sholat Dhuha yang waktunya kurang lebih sampai pukul 11.00 sebanyak 8 rakaat
Sholat Tasbih, dilakukan setiap malam
Sholat yang merupakan bagian penutup diteruskan dengan wirid dzikir sebanyak-banyaknya.

Setelah sembahyang Magrib dilakukan wirid Dzikir sekurang-kurangnya 165 kali, dilanjutkan dengan khotaman dan witir-witir lainnya samapai waktunya shalat Isya. Kemudian dilakukan sholat malam hari, yaitu sholat Tahiyatul Masjid dan Syukrul wudhu sebelum kering air wudlu, sholat hayat yang lebih baik dilaksanakan di malam hari, sholat Taubat yang gunanya untuk mencuci dosa yang telah diperbuat oleh manusia, sholat Tahajud yaitu 40 malam mandi 40 kali tiap-tipa malam, 40 malam “melek” (tidak tidur), 40 hari berpuasa, 40 hari tidak makan nasi atau ‘niis’, 40 hari tidak makan garam, 40 hari tidak minum, dan lain-lain.

Peziarah lain yang mengaku bernama Karwati (bukan nama sebenarnya), usia 36 Tahun. Ia berasal dari Majalengka menyebutkan, ia datang ke Cirebon pada mulanya hanya diajak oleh tetangga. Sejak awal ia merasa tidak memiliki motivasi datang ke makam Embah Kuwu Sangkan, namun setelah beberapa kali datang makam keramat tersebut ia berperasaan lain. Sejak itulah memiliki itikad untuk merubah nasibnya. Ia di makam Embah Kuwu Sangkan bermalam sambil melakukan sembahyang malam dan membaca wirid dan dzikir. Wirid yang ia baca atau diamalkan dimakam itu bukan wirid seperti yang dianjurkan melainkan yang dia miliki sendiri. Setelah sholat subuh di masjid, biasanya ia membaca wirid dimakam keramat itu sampai pagi sekitar pukul 06.15. Kegiatan dimakam dilakukan kembali setelah sholat Isya hingga larut malam. Ia tidak tidur di makam, melainkan di mesjid yang letaknya berdampingan dengan komplek makam keramat. Untuk keperluan makan tinggal pergi ke warung yang berada di dekat mesjid itu juga. Menurut pengakuannya, ia sering pergi ke tempat-tempat yang menurutnya merupakan tempat sakral. Menurutnya, baru ia pulang kerumah apabila setelah mendapat ilapat (ilham). Hingga sekarang, menurut pengakuan-nya kehidupannya sudah ada sedikit perubahan.

Motivasi peziarah yang lainnya menyebutkan bahwa ia datang ke makam Embah Kuwu Sangkan bermaksud untuk merubah nasib. Motivasi seperti ini disebutkan oleh Bapak Badru (bukan nama sebenarnya) 47 tahun peziarah dari Cirebon Utara yang profesinya sebagai buruh bangunan maupun Eko ( 23 tahun) yang belum memiliki pekerjaan tetap berziarah ke makam ini niatnya untuk mencari keberkahan sehingga ada perubahan pada nasibnya. Bapak Badru baru mengetahui bahwa makam keramat Embah Kuwu Sangkan itu sebagai makam yang banyak dikunjungi peziarah setelah diberitahu oleh teman sekerjanya. Namun terdorong oleh niatnya untuk mencoba melakukan ziarah sambil mencoba berusaha mengubah nasibnya, ia mengatakan:

“Saya datang ke makam wali ini bermaksud berziarah, semoga dengan perantaraan ziarah ini ada perubahan kepada nasib saya. Semoga ada rizki saya dengan sebab ziarah ini).

Hal serupa dikatakan oleh Ibu Martina dari Probolinggo, Jatim ini bermaksud ziarah dan berharap dengan berziarah imudah-mudahan dapat menemukan kecocokan dalam berdagang. Katanya, selama berziarah ia sudah berpuasa 12 hari. Dengan berziarah ini mudah-mudahan menemukan jalan yang tepat sehingga ada kemajuan dalam usahanya. Keinginan Ibu Martina ini didorong karena telah menyaksikan temannya yang mencoba berdagang bermacam barang, tapi belum mendapat kecocokan “jodoh”. Setelah berziarah, dan mendapat jodoh, ia berubah usahanya dengan berjualan bakso tahu, ternyata jualannya ada perubahan dan mengalami kemajuan.

Berlainan dengan Bapak Agus (40 tahun), ia berasal dari Sukabumi dan bekerja pegawai swasta, yakni dibidang bangunan. Selama berumah tangga ia belum mendapatka keturunan. Kesana-kemari ia telah berupaya baik ke dokter ataupun ke pengobatan Alternatif tetapi belum membuahkan hasil. Karena ia penasaran ia tekun beribadah, kemudian berziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan dan berdoa Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Secara berulang kali, ia berziarah sambil memohon barokah kepada Yang Maha Kuasa. Berkat kebesaran Yang Maha Kuasa, istri Bapak Agus dikaruniai anak. Menurut pengakuannya, sejak itu Bapak Agus sering ziarah ke makam Embah Kuwu Sangkan, baik untuk keperluan urusan keluarga maupun usaha. Sejak itu pula usahanya mengalami kemajuan.

Peziarah lainnya yang mengaku bernama Ibu Sumarni ( 50 Tahun) berasal dari Indramayu. Menuturkan, ia berziarah ke makam Embah Kuwu Sangkan ini karena ingin berubah nasib, usahanya selalu gagal dan rugi atau dibohongi orang. Ia pada mulanya berziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan karena diberitahu oleh orang lain. Tetangganya dulu, yang sehari-harinya bekerja sebagai berjualan di Bandung setelah berziarah ke makam keramai ini jualan semakin laris. Bahkan sekarang sudah bisa membeli rumah kontraknya. Menurut Ibu Sumarni menuturkan keinginannya:

“Mudah-mudahan doa saya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, saya hanya ikhtiar sedangkan yang menentukan hanya Dia. Oleh karena itu, semoga menjadi jalan untuk membuka rizki saya”.

Ibu Sumarni bermalam di makam keramat Embah Kuwun Sangkan. Kegiatan yang dilakukan selama semalam yakni sholat Tasbih sembahyah dilanjutjkan dengan membaca wirid-wirid atau zikir. Setelah sembahyang subuh kembali membaca doa wirid dan tak henti-henti berzikir. Sebelum pulang, terlebih dahulu minta “air doa” . Air tersebut untuk diminum atau dipakai mandi.

Peziarah lainnya, Bapak Purwoto (45 Tahun) dari Cilacap menuturkan motivasi berziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan ingin menyembuhkan adik perempuannya yang strees. Menurut ceritanya, awalnya adik perempuannya selalu mengurung diri di kamar, seolah-olah dirinya merasa putus asa (apatis), ia tidak mau melakukan apa-apa. Suatu ketika ia ada yang melamar, dan tak lama kemudian ia menikah. Setelah menikah malah justru ia menjadi-jadi, sehingga dapat dikatakan meresahkan tetangga sekitar. Puncaknya, suami menjadi tidak betah dan tidak bertanggung Jawab. Akhirnya, yang bertanggung-jawab Bapak Purwoto sebagai anak yang terua ini. Karena merasa bertanggungjawab, ia kesana-kemari berusaha menyembuhkan adiknya yang malang itu, baik berobat ke dokter jiwa, maupun ke orang pintar. Tapi usahanya nihil, dan nyaris putus asa.

Katanya, ia mengetahui ke makam keramat ini dari teman sekerjanya di kantor. Setelah berziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan, kondisi jiwa adiknya menjadi tenang dan terbuka pikirannya karena banyak berdoa dan zikir memohon kepada yang punya-Nya.

Menurut pengakuan peziarah, pada umumnya motivasi mereka berziarah kemakam menginginkan kelancaran dalam arti tidak ada gangguan atau sesuatu hal yang akan menyebabkan usahanya mengalami kegagalan. Pernyataan demikian di lontarkan oleh Bapak Bambang (50 Tahun) berasal dari Tegal. Ia berziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan bersama rombongan seprofesinya sebagai pengusaha kecil-kecilan di bidang pertukangan, terutama pemasangan Gypsum di setiap perumahan. Karena sekarang mengalami persaingan yang ketat antar seprofesinya, maka usahanya mengalami kembang kempis. Oleh karena ia, mencoba ziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan. Ia bersama rombongan, mengetahui ke makam keramat ini atas petunjuk seorang teman yang bekerja di PLN.

Bapak Bambang seorang tukang ojeg menyebutkan bahwa ia datang ke makam keramat ini sudah tiga hari. Selama di makam keramat Embah Kuwu Sangkan mereka melakukan sholat malam secara berjamaah dan membaca doa, wirid serta zkikir seperti umumnya dilaksanakan oleh peziarah lainnya. Setelah pajar, mereka melakukan sholat Subuh dan memohon doa restu kepada Allah SWT agar maksudnya dikabul.

Berziarah berarti mengunjungi atau mendatangi ke makam untuk mendoakan. Berziarah dianjurkan oleh Rasulullah, tetapi sebatas untuk mengingatkan kepada kita bahwa setiap makhluk hidup yang bernyawa akan mengalami mati, dan ada kehidupan tentu ada kematian. Oleh karena kita harus selalu mempersiapkan segalanya untuk bekal di akhirat nanti. Bagi yang shaleh dan beramal baik, selalu di dikenang dan dijadikan tauladan, sehingga tidak sedikit orang yang berkunjung ke makam tersebut untuk mendoakan agar yang bersangkutan ditempatkan disisi-Nya, dan sebagainya. Makam yang dikunjungi adalah makam seorang ajengan atau Kyai. Seorang tokoh yang tekun dan menyebarkan ajaran agama Islam serta dimitoskan oleh masyarakat yang percaya dan meyakininya sebagai penuntun hidup, yakni Pangeran Walangsungsang atau disebut Embah Kuwu Sangkan.

Tatacara berziarah menurut ajaran Islam diatur dalam kitab fiqih, di antaranya bila memasuki makam pertama-tama mengucapkan:

“Assalaamu’alaikum ya ahladiyaari minal mu’miniina wa innaa in syaa-allaahu bikum laahiquun(a). As-aalullaahalanaa wa lakumul’aafiyah.”

Artinya semoga kesejahteraan selalu ada pada kalian, wahai penghuni kampung orang-orang yang beriman, Sesungguhnya kami jika Allah menghendaki akan bertemu dengan kalian. Kami memohon kepada Allah kesejahteraan untuk kami dan untuk kalian semua.

Bila memasuki ke tahan pekuburan dan mencari makam yang dikehendaki misalnya makam orang tua atau makam para wali Allah mengucapkan:

”Assalamu’alaikum ayyatuhal arwaahul faaniyatu wal abdaanul baaliyatu wa’izhaamun nakhirah, allatii kharajat minaddun yaa wahiya billaahi mu’minah. Allaahumma adkhil’alaihim rauhan minka wasalaaman minnii”

Artinya, Semoga keselamatan selalu ada pada kalian, wahai para ruh yang telah rusak dan badan yang telah busuk serta tulang-tulang yang telah hancur, yang telah keluar dari dunia dalam keadaan beriman kepada Allah. Ya Allah, masukkanlah kepada mereka rasa kenyamanan dari-Mu dan keselamatan dariku.

Setelah di atas makam mengharap ke timur berarti berhadapan dengan mayat kemudian membaca Al-fatihah dan Surat Yasiin atau bacaan Tahlil. Setelah itu membaca doa yang maksudnya agar pahala bacaan-bacaan bisa diterima oleh ahli kubur. Bacaan doa untuk ahli kubur sebagai berikut:

“Bismillaahirrahmaanirrahim.Alhamdulillaahi raabil’aalamiin. Allahumma taqabbal wa aushiltsawaaba maaqara’naa liruuhi sayyidinaa muhammadin washshahaabati wattabi’iina wa mujtahidiina wal muqallidiina wal mushannifiina wal ulamaa-il ‘aamiliina wa arwahi aabaa-inaawa ummahaatinaa wa ajdaadinaa wajaddaatinaa wa a’maaminaa wa’ammaatinaa wa akhwaalinaa wakhaalaatinaa wa ustaadzinaa wa amwaatil muslimina wal muslimaati wal mu’miniina wal mu’minaat. Allahummaghfir lahum warhamhum wa’aafihim wa’fu ‘anhum wa nawwir qubuurahum wa adkhilhumul jannata ma’al abraari burahmatika yaa arhamarraahimiina wa hamdu lillaahi rabbil’aalamiin”.

Artinya: Dengan menyebut nama Allah Yang maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah seru sekalian alam. Ya Allah, terimalah dan sampaikanlah pahala dari semua yang telah kami baca kepada Ruh Jungjunan kita Nabi Muhammad saw, para sahabat, para Tabi’in, para Mujtahid, orang-orang yang taqlid dan para pengarang kitab-kitab agama, para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan kepada para arwah bapak kami, ibu kami, nenek-nenek kami, paman-paman kami, dan kepada arwah guru-guru kami dan semua orang-orang Islam serta orang-orang Mukmin yang telah meninggal dunia. Ya Allah, ampunilah mereka, kasihanilah mereka, berilah kesejahteraan mereka, hapuskanlah dosa-dosa mereka, sinarilah kuburan mereka dan masukanlah mereka ke dalam sorga bersama-sama orang yang baik, berbat rahmat-Mu, wahai Dzat Yang maha Pengasih. Dan segala puji bagi Allah seru sekalian alam.

Itulah tatacara berziarah ke makam yang dianjurkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Ber-ziarah dianjurkan dan sunat hukumnya. Itu setelah keadaan berubah di mana umat Islam sudah kuat memegang Aqidah. Adapun larangan apabila berziarah ke makam tidak boleh menginjak atau menduduki kuburan, apalagi dibagian kepalanya. Seseorang yang sudah meninggal tidak boleh dibicarakan kejelekannya.

Peziarah mendoakan ahli kubur memang sewajarnya, bukan sebaliknya peziarah mohon bantuan sesuatu kepada ahli kubur. Dalam hal berziarah/mengunjungi atau mendoakan ahli kubur ada dua pendapat: pertama, untuk mendoakan ahli kubur tidak selalu harus diucapkan di depan kuburan orang tersebut. Alasannya, doa itu bukan tali, walaupun disampaikan dari rumah, masjid, dan sebagainya tentu akan sampai kepada Tuhan; kedua, memang doa itu bukan tali tetapi ada tempat utama dan ada pula tempat yang lebih utama. Doa yang disampaikan dari rumah itu pun baik, tapi lebih utama jika secara langsung diucapkan di depan makam orang yang dimaksud. Di depan makam setidaknya akan membantu hati lebih khusuk dalam memanjatkan doa.

Secara tidak disadari kegiatan peziarah dapat saja tergelincir kepada praktek syirik (menyekutukan Allah) yang bertentangan dengan aqidah Islam. Untuk mencegah dan menanggulangi hal tersebut, perlu adanya pembinaan atau pengarahan dari pemuka agama secara perlahan-lahan.

Sebenarnya bergantung pada motivasi itu sendiri, bila sebatas ingin mendoakan ahli kubur agar diberikan berkah dan diampuni dosanya oleh Allah SWT mungkin tidak tergolong menyekutukan Allah. Tapi bila motivasinya ngalap berkah (mencari berkah) atau mohon bantuan sesuatu yang dari sudah meninggal, tentu masalahnya menjadi lain. Jangankan untuk mengurusi atau membantu orang lain (yang masih hidup), untuk mempertanggungjawabkan diri sendiri pun repot. Jadi, sudah sewajarnya orang yang masih hidup mendoakan kepada orang yang sudah meninggal. Membaca ayat-ayat suci Al-Quran atau mendoakan orang yang sudah meninggal dunia termasuk pula ibadah. Bagi siapa saja yang membacakan ayat-ayatt suci tersebut tentu mendapat pahala dan berkah dari Allah swt.

Oleh karena itu, bergantung dari mana kita memandang segala sesuatu itu. Tidak dapat kita pungkiri, bahwa ada kesalahpahaman dalam memandang tetang ziarah itu. Kesalahpahaman itu semakin lama semakin merebak sehingga sulit dibedakan, mana yang dianjurkan dan mana yang dilarang.

Terlepas dari itu semua, ziarah itu sudah merupakan kebiasaan atau tradisi masyarakat yang sulit ditinggalkan atau dihilangkan. Biarlah itu hilang dengan sendirinya. Akan tetapi, selama kegiatan itu tidak menyesatkan dan tidak keluar dari rambu atau aturan-aturan yang ada, itu tidak menjadi masalah. Atau, selama masih memiliki nilai budaya yang dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat pendukungnya.

Berziarah atau mengunjungi makam keramat merupakan suatu upaya untuk mencari berkah dari Allah swt. Bagi yang memiliki motivasi lain, kegiatan itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam karena termasuk menyekutukan Tuhan. Perbuatan itu tidak dibenarkan karena hukumnya dosa besar.

Peziarah hendaknya pandai memilah-milah agar jangan sampai terjerumus menjadi umat yang rugi. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman yang baik. Bagi yang belum dapat memahami, bila dirasakan besar manfaatnya maupun sebaliknya, merupakan suatu resiko yang harus diterimanya. Namun atas keyakinan, mereka siap melakukan apa saja walaupun memerlukan pengorbanan moril maupun materil. Secara materi misalnya, tidak sedikit jumlah biaya yang harus dikeluarkan, walaupun maksud dan tujuan yang diinginkan belum tentu terkabul. Rupanya masalah itu tidak menjadi problema, karena menyadari bahwa segala suatu itu perlu upaya, walaupun yang menentukan segalanya Allah Swt.

Tidak dapat dipungkiri, itulah salahsatu sistem kepercayaan yang ada dan berkembang di masyarakat kita. Namun itu merupakan nilai budaya bangsa yang sarat dengan nilai luhur.

Makam Keramat Godog

Terletak di Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan. Sunan Godog dikenal dengan sebutan Prabu Kiansantang yang hidup pada abad ke 15 masehi, pada masa kerajaan yang diperintah oleh Prabu Siliwangi yang beragama Hindu. Beliau mempunyai dua anak diantaranya bernama Kiansantang (Sunan Rahmat) yang terkenal dengan kesaktiannya. Dia termasuk penyebar agama Islam di Pulau Jawa khususnya di kerajaan Padjadjaran. Setelah menyebarkan agama Islam di daerah Garut, Sunan Rahmat kembali kedaerah Godog dan menetap sampai akhir hayatnya.

Sekarang makam tersebut banyak dikunjungi oleh para peziarah dan merupakan obyek wisata makam Godog. Adapun daya tarik yang terdapat di makam Godog (Sunan Rahmat) berupa makam yang dikeramatkan dan barang pusaka peninggalan masa lalu yang dirawat dengan baik, seperti golok, keris dan yang lainnya. Barang-barang tersebut setiap setahun sekali dicuci dengan air bunga-bungaan dan digosok dengan minyak wangi supaya tidak berkarat. Biasanya dilakukan setiap tanggal 12 Mulud yang disebut upacara Ngalungsur atau panjang jimat, sekaligus merupakan atraksi wisata ritual. Untuk mencapai makam Godog diperlukan waktu 40 menit atau kira-kira 11 Km dari pusat kota.

Terdapat 7 buah makam yang terdiri dari makam Kiai Santang yang terdapat pada ruang utama, makam Sembah Dalem Sarepeun Suci, Makam Sembah Dalem Sarepeun Agung, Sembah Dalem Kholipah Agung, dan Santuwaan Marjaya Suci yang kesemuanya berada pada ruang tertutup dengan ruangan yang berbeda dengan Makam Kiai Santang Kemudian di sebelah luar terdapat makam Syek Dora dan makam Sembah Pager Jaya yang berada pada ruang terbuka dengan letak yang terpisah. Sembah Pager jaya adalah penjaga makam pertama makam Godog dan keturunannya juga merupakan juru kunci atau kuncen makam tersebut. Sesepuh juru kunci kawasan Makam Keramat Godog adalah bapak H. Ahmad Endang.

Hal yang menarik dari Makam Keramat Godog salah satunya adalah mengenai sejarah atau legendanya yang menceritakan tentang Kiansantang atau Syek Sunan Rohmat. Kiansantang menurut sejarahnya merupakan putra dari Prabu Siliwangi dari 3 bersaudara yaitu Dewi Rara Santang dan Walang Sungsang. Kiansantang lahir pada tahun 1315 Masehi di Padjadjaran yang sekarang Bogor. Pada usia 22 tahun tepatnya tahun 1337 masehi Kiansantang diangkat menjadi Dalem Bogor ke II. Dari kecil hingga dewasa yaitu sampai usia 33 tahun tepatnya tahun 1348 masehi, Prabu Kiansantang belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya di sejagat pulau Jawa. Prabu Kiansantang meninggalkan Padjadjaran menuju tanah Mekah untuk bertemu tandingannya yaitu Sayyidina Ali.

Setelah bertemu dengan Sayyidina Ali Kiansantang yang diganti namanya Galantrang Setra merasa terkalahkan dan enggan sehingga Galantrang Setra masuk Islam. Setelah itu Kiansantang bermaksud pulang ke Padjadjaran untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya. Karena pada waktu itu Kiansantang belum bisa menyebarkan agama Islam dengan sempurna karena belum menguasai ajaran agama Islam beliau kembali ke Kota Mekah. Pada tahun 1362 masehi Prabu Kiansantang kembali ke tanah Jawa untuk menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa.


Kisah Supranatural Keramat Pamijahan

Syech Abdul Muhyi adalah tokoh ulama legendaris yang lahir di Mataram tahun 1650. Ia tumbuh dan menghabiskan masa mudanya di Gresik dan Ampel, Jawa Timur. Ia pernah menuntut ilmu di Pesantren Kuala Aceh selama delapan tahun. Ia kemudian memperdalam Islam di Baghdad pada usia 27 tahun dan menunaikan ibadah haji.

Setelah berhaji, ia kembali ke Jawa untuk membantu misi Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Awalnya Abdul Muhyi menyebarkan Islam di Darma, Kuningan, dan menetap di sana selama tujuh tahun. Selanjutnya, ia mengembara hingga ke Pameungpeuk, Garut Selatan, selama setahun. Abdul Muhyi melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah Batuwangi dan Lebaksiuh. Setelah empat tahun menetap di Lebaksiuh, ia bermukim di dalam goa, yang sekarang dikenal sebagai Goa Safarwadi, dengan maksud untuk mendalami ilmu agama dan mendidik para santrinya.

Keberadaan Goa Safarwadi ini erat kaitannya dengan kisah perjalan Syech Abdul Muhyi. Dikisahkan, pada suatu saat ia mendapat perintah dari gurunya yakni Syekh Abdul Rauf Singkel (dari Kuala Aceh), untuk mengembangkan agama Islam di Jawa Barat bagian selatan sekaligus mencari tempat yang disebutkan dalam ilham dengan sebuah gua khusus sebagai tandanya.

Setelah melalui perjalanan yang sangat panjang dan berat, pada suatu hari ketika sedang asyik bertafakkur, memuji kebesaran Allah, Syech Abdul Muhyi tiba-tiba menoleh ke arah tanaman padinya, yang didapati telah menguning dan sudah sampai masanya untuk dipanen.

Konon, setelah dipanen, hasil yang diperoleh ternyata tidak kurang juga tidak lebih atau hanya mendapat sebanyak benih yang ditanam. Mengetahui hal ini ia menjadi sangat terkejut sekaligus gembira, karena itu adalah pertanda bahwa perjuangannya mencari gua sudah dekat.

Upaya pertama untuk memastikan adanya gua yang dicari dan ternyata berhasil ini, dilanjutkan dengan cara menanam padi kembali di lahan sekitar tempat tersebut. Sambil terus berdoa kepada Allah SWT upaya ini pada akhirnya juga mendapatkan hasil. Padi yang ditanam, berbuah dan menguning, lalu dipetik hasilnya, ternyata menuai hasil sama sebagaimana yang terjadi pada peristiwa pertama. Hal ini semakin menambah keyakinan Syech Abdul Muhyi bahwa di tempat itulah (di dalam gunung) terdapat gua yang dicarinya.

Suatu hari ketika sedang berjalan ke sebelah timur gunung tersebut, sambil bermunajat kepada Allah SWT, Syech Abdul Muhyi tiba-tiba mendengar suara air terjun dan kicauan burung-burung kecil dari tempat tersebut. Ia kemudian melangkah turun ke tempat di mana suara itu berada, dan di sana ia melihat sebuah lubang besar yang ternyata sesuai dengan sifat-sifat gua yang cirri-cirinya telah ditunjukkan oleh gurunya. Seketika itu juga terangkatlah kedua tangan Syekh Abdul Muhyi, menengadah ke atas sambil mengucap doa sebagai tanda syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan pertolongan pada dirinya dalam upaya menemukan gua yang dicari.

Peristiwa penemuan gua ini terjadi pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tahun 1111 H/1690 M, setelah perjuangan berat dalam mencarinya selama kurang lebih 12 tahun. Usia Syech Abdul Muhyi sendiri pada waktu itu adalah genap 40 tahun. Dan gua tersebut pada nantinya akan dikenal dengan nama Gua Pamijahan. Gua Pamijahan terletak di sebuah kaki bukit yang sekarang dikenal dengan sebutan Gunung Mujarod. Nama ini diambil dari kata bahasa Arab yang berarti “tempat penenangan” atau dalam bahasa Sunda disebut sebagai; tempat “nyirnakeun manah”, karena Syech Abdul Muhyi sering melakukan taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) di dalam gua tersebut.

Gua Pamijahan ini pada dasarnya memiliki makna khusus dalam perjalanan dakwah dan spiritual Syech Abdul Muhyi. Penemuan dan keberadaan gua ini seolah menjadi simbol yang menandakan bahwa perjalanan spiritual Syech Abdul Muhyi telah mengalami puncaknya. Selain itu, selalu terdapat makna dan fungsi khusus dalam setiap hal yang terhubung secara istimewa dengan tokoh yang menjalaninya.

Hal ini bisa dipahami karena seperti yang diungkapkan oleh Martin Van Bruinessen, bahwa para tokoh sejarah Islam di nusantara khususnya, biasa melakukan pendekatan supranatural dalam rangka meningkatkan kharisma mereka. Gua besar di Pamijahan (Tasikmalaya Selatan) sebagai tempat Syech Abdul Muhyi melakukan ‘riyadhah spiritual’, dan salah satu pusat penyebaran tarekat Syathariyah di Pulau Jawa adalah contoh dari hal tersebut.
Para juru kunci di tempat ini bahkan menunjukkan sebuah lorong sempit yang konon dilalui oleh Syech Abdul Muhyi untuk pergi ke Makkah setiap Jum’at. Sementara itu di Cibulakan (Pandeglang-Banten) misalnya, juga terdapat sebuah sumur yang konon berhubungan dengan sumber air zam-zam di Makkah. Menurut riwayat, Maulana Mansyur, yang diyakini sebagai wali, yang dimakamkan di Cikaduwen, pulang dari Makkah melalui sumber mata air zam-zam dan muncul di sumur ini.

Ringkasnya, hingga saat ini masih ada “kyai” di Jawa, yang menurut para pengikutnya yang paling fanatik, setiap Jum’at secara gaib pergi sembahyang di Masjidil Haram. Semua ini juga menandaskan perihal lain, yakni kuatnya peranan haji dan Makkah serta hubungannya dengan tradisi spiritual sebagai legitimasi kekuasaan atau keilmuan seseorang, dalam pandangan orang Jawa.

Di lingkungan kekeramatan Pamijahan sendiri terdapat beberapa kisah yang mengandung pengertian di atas. Satu kisah yang sering beredar menyebutkan bahwa, konon Syech Abdul Muhyi bersama Maulana Mansyur dan Ja’far Shadiq sering shalat di Makkah bersama-sama lewat Gua Pamijahan. Ketiga orang itu memang dikenal mempunyai ikatan persahabatan yang sangat erat.

Kisah supranatural lain di lingkungan kekeramatan Pamijahan adalah kisah yang menjadi muasal diharamkannya merokok di lingkungan tersebut. Menurut kepercayaan masyarakat, pada suatu hari Syech Abdul Muhyi dan Maulana Mansyur berada di Makkah hendak pulang ke tanah Jawa, keduanya kemudian berunding tentang pemberangkatan bahwa siapa yang sampai lebih dulu di Jawa, hendaklah menunggu salah seorang yang lain di tempat yang telah ditentukan. Lalu berangkatlah kedua sahabat tersebut dengan cara masing-masing, yakni; Syeikh Maulana Mansyur berjalan di atas bumi sedangkan Syech Abdul Muhyi di bawah bumi, keduanya sama-sama menggunakan kesaktiannya.

Namun, ketika Syech Abdul Muhyi sedang berada dalam perjalanan di bawah laut, tiba-tiba ia merasa kedinginan, lalu berhenti sebentar. Sewaktu hendak menyalakan api dengan maksud untuk merokok, tanpa disangka muncul kabut yang membuat sekelilingnya jadi gelap. ia terpaksa berdiam diri menunggu kabut tersebut menipis sambil merokok. Namun kabut itu ternyata semakin menebal. Akhirnya ia teringat bahwa merokok itu perbuatan yang makruh (dibenci Allah). Maka seketika itu juga ia merasa berdosa dan segera bertaubat kepada Allah SWT. Bersamaan dengan itu kabut pun menghilang, dan akhirnya ia bisa berangkat lagi meneruskan perjalanannya.

Mulai saat itulah Syech Abdul Muhyi menjauhkan diri dari merokok, bahkan bisa dikatakan mengharamkan rokok untuk dirinya. Sedang kepada keluarga dan pengikutnya, ia  hanya melarang mereka merokok sewaktu di dekat dirinya.

Oleh karena itu, di daerah Pamijahan ada tempat tertentu yang dilarang secara adat untuk merokok, khususnya tempat yang berada di sekitar makam Syech Abdul Muhyi. Adapun batas-batas wilayah larangan merokok antara lain: sebelah timur daerah Kaca-Kaca, sebelah barat jalan yang menuju ke gua dimulai dari masjid Wakaf, sebelah selatan dimulai dari makam Dalem Yudanagara (+ 300 m) dari makam Syech, sedang sebelah utara (±300 m) dari makam Syech, yaitu jalan umum yang menuju ke Makam Eyang Abdul Qohar di Pandawa.

Singkat kata, wilayah-wilayah dengan batasan yang telah ditentukan tersebut adalah daerah larangan merokok menurut adat yang berlaku.

Kisah-kisah semacam ini tidak akan dibahas lebih jauh. Yang perlu direnungi adalah hikmah yang berada di baliknya. Sebab, setiap cerita yang ada pada dasarnya menunjukkan keluasan ilmu, keluhuran pribadi dan kemuliaan pengabdian Syech Abdul Muhyi kepada masyarakat dalam perjuangannya mengajarkan prinsip-prinsip Islam dan menjauhkan mereka dari bentuk-bentuk kepercayaan yang sesat.

Pamijahan sendiri pada dasarnya adalah nama sebuah kampung yang letaknya di pinggir kali, sehingga ia merupakan tempat yang menguntungkan karena masyarakat sekitar dapat mengolahnya untuk mengembang-biakkan ikan, akan tetapi kondisi ini juga bisa sebaliknya, yakni kadang-kadang membawa bencana, seperti banjir yang melanda daerah tersebut beberapa waktu yang lalu. Peristiwa ini membuat banyak rumah yang hanyut karena tidak kuat menahan banjir. Oleh karena itu pula, bangunan-bangunan yang sekarang masih ada dan terletak di tepi sungai harus dibuat permanen.

Pamijahan termasuk ibu kota Desa di Wilayah Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Sebelum Syech datang ke Pamijahan, sudah ada kampung yakni daerah Bojong, wilayah Sukapura, terletak di sebelah Timur Laut dari kampung Pamijahan sekarang, yang kini dikenal dengan nama Kampung Bengkok. Di sana terdapat makam Dalem Sacaparana, mertuanya Syech Abdul Muhyi.

Adapun kata “Pamijahan” adalah nama baru, di masa hidup Syech Abdul Muhyi sendiri nama tersebut belum dikenal. Wilayah ini disebut oleh Syech Abdul Muhyi dengan istilah Safar Wadi. Nama ini diambil dari kata Bahasa Arab, yakni: safar yang berarti “jalan” dan wadi yang berarti “lembah”. Jadi, Safar Wadi adalah jalan yang berada di lembah. Hal ini disesuaikan dengan letaknya yang berada di antara dua bukit di pinggir kali.

Namun sekarang Safar Wadi dikenal juga dengan nama Pamijahan, karena banyak orang yang berdatangan dari pelosok Pulau Jawa secara berduyun-duyun, laksana ikan yang akan bertelur (mijah). Karena itu nama Safar Wadi kemudian berganti menjadi Pamijahan, sebab mempunyai arti yang hampir mirip dengan tempat ikan akan bertelur, dan bukan berarti tempat “pemujaan”.

Goa Safarwadi merupakan salah satu tujuan utama peziarah yang berkunjung ke Pamijahan. Panjang lorong goa sekitar 284 meter dan lebar 24,5 meter. Peziarah bisa menyusuri goa dalam waktu dua jam. Salah satu bagian goa yang paling sering dikunjungi adalah hamparan cadas berukuran sekitar 12 meter x 8 meter yang disebut sebagai Lapangan Baitullah. Tempat itu dulu sering dipakai shalat oleh Syech Abdul Muhyi bersama para santrinya.

Di samping lapangan cadas itu terdapat sumber air Cikahuripan yang keluar dari sela-sela dinding batu cadas. Mata air itu terus mengalir sepanjang tahun. Oleh masyarakat sekitar, air itu dipopulerkan sebagai air “zam-zam Pamijahan.” Air ini dipercaya memiliki berbagai khasiat. Menjelang Ramadhan, para peziarah di Pamijahan tak lupa membawa botol air dalam kemasan, bahkan jerigen, untuk menampung air “zam-zam Pamijahan” itu. Dengan minum air itu, badan diyakini tetap sehat selama menjalankan ibadah puasa.

Syech Muhyi ini disebut juga oleh bangsa wali lainnya dengan gelar A’dzomut Darojat, yang artinya “orang yang mempunyai derajat agung.” Bercerita tentang derajat kewaliyan, tentu kita hanya paham atau mengerti secara sepintas, bahwa yang disebut derajat seperti ini hanya ada di zaman Wali Songo. Sebenarnya pemahaman seperti ini tidak benar, karena derajat Waliyulloh akan terus mengalir hingga sampai pada akhir zaman sebagai sunnaturrosul.

Syech Abdul Muhyi dalam sejarah hidupnya adalah seorang yang zuhud, pintar, sakti dan terkenal paling berani dalam memerangi musuh Islam. Namun semua itu adalah masa lalu dan kini hanya tinggal kenangan belaka. Hanya saja walau ia sudah ratusan tahun telah tiada, namun rohmat serta kekeramatannya masih banyak diburu, terutama oleh para peziarah yang minta berkah lewat wasilahnya.


Makam Keramat Godog

Terletak di Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan. Sunan Godog dikenal dengan sebutan Prabu Kiansantang yang hidup pada abad ke 15 masehi, pada masa kerajaan yang diperintah oleh Prabu Siliwangi yang beragama Hindu. Beliau mempunyai dua anak diantaranya bernama Kiansantang (Sunan Rahmat) yang terkenal dengan kesaktiannya. Dia termasuk penyebar agama Islam di Pulau Jawa khususnya di kerajaan Padjadjaran. Setelah menyebarkan agama Islam di daerah Garut, Sunan Rahmat kembali kedaerah Godog dan menetap sampai akhir hayatnya.

Sekarang makam tersebut banyak dikunjungi oleh para peziarah dan merupakan obyek wisata makam Godog. Adapun daya tarik yang terdapat di makam Godog (Sunan Rahmat) berupa makam yang dikeramatkan dan barang pusaka peninggalan masa lalu yang dirawat dengan baik, seperti golok, keris dan yang lainnya. Barang-barang tersebut setiap setahun sekali dicuci dengan air bunga-bungaan dan digosok dengan minyak wangi supaya tidak berkarat. Biasanya dilakukan setiap tanggal 12 Mulud yang disebut upacara Ngalungsur atau panjang jimat, sekaligus merupakan atraksi wisata ritual. Untuk mencapai makam Godog diperlukan waktu 40 menit atau kira-kira 11 Km dari pusat kota.

Terdapat 7 buah makam yang terdiri dari makam Kiai Santang yang terdapat pada ruang utama, makam Sembah Dalem Sarepeun Suci, Makam Sembah Dalem Sarepeun Agung, Sembah Dalem Kholipah Agung, dan Santuwaan Marjaya Suci yang kesemuanya berada pada ruang tertutup dengan ruangan yang berbeda dengan Makam Kiai Santang Kemudian di sebelah luar terdapat makam Syek Dora dan makam Sembah Pager Jaya yang berada pada ruang terbuka dengan letak yang terpisah. Sembah Pager jaya adalah penjaga makam pertama makam Godog dan keturunannya juga merupakan juru kunci atau kuncen makam tersebut. Sesepuh juru kunci kawasan Makam Keramat Godog adalah bapak H. Ahmad Endang.

Hal yang menarik dari Makam Keramat Godog salah satunya adalah mengenai sejarah atau legendanya yang menceritakan tentang Kiansantang atau Syek Sunan Rohmat. Kiansantang menurut sejarahnya merupakan putra dari Prabu Siliwangi dari 3 bersaudara yaitu Dewi Rara Santang dan Walang Sungsang. Kiansantang lahir pada tahun 1315 Masehi di Padjadjaran yang sekarang Bogor. Pada usia 22 tahun tepatnya tahun 1337 masehi Kiansantang diangkat menjadi Dalem Bogor ke II. Dari kecil hingga dewasa yaitu sampai usia 33 tahun tepatnya tahun 1348 masehi, Prabu Kiansantang belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya di sejagat pulau Jawa. Prabu Kiansantang meninggalkan Padjadjaran menuju tanah Mekah untuk bertemu tandingannya yaitu Sayyidina Ali.

Setelah bertemu dengan Sayyidina Ali Kiansantang yang diganti namanya Galantrang Setra merasa terkalahkan dan enggan sehingga Galantrang Setra masuk Islam. Setelah itu Kiansantang bermaksud pulang ke Padjadjaran untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya. Karena pada waktu itu Kiansantang belum bisa menyebarkan agama Islam dengan sempurna karena belum menguasai ajaran agama Islam beliau kembali ke Kota Mekah. Pada tahun 1362 masehi Prabu Kiansantang kembali ke tanah Jawa untuk menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa.




Aura Agung nan Mistis dari Makam Teuku Umar

Teuku Umar sebagai Pahlawan Aceh dan Pahlawan Nasional sudah cukup dikenal. Bernama lengkap Teuku Umar Djohan Pahlawan, yang nenek moyangnya berasal dari Minangkabau, turunan Datuk Makudum Sati, pahlawan kelahiran Meulaboh, Aceh Barat, pada tahun 1854, dikenal sebagai orang sakti. Sangat lihai dan ahli dalam siasat perang.

"Teuku Umar yang dalam usia 19 tahun sudah jadi Keuchik atau kepala kampung di daerah Daya Meulaboh ini, sulit ditaklukan Belanda karena ia punya kesaktian, tak tembus peluru. Suami Cut Nyak Dhien ini gugur di medan pertempuran setelah ada pengikutnya berkianat dan memberitahukan kepada Belanda bahwa Teuku Umar hanya bisa ditembus peluru emas," kata Dahlia, petugas dari Balai Pengkajian Pelestarian Nilai Sejarah NAD, Kamis (25/6) di Panton Reu.

Berkunjung ke makam Teuku Umar, di pinggir jalan raya Meulaboh di Kabupaten Aceh Barat, Desa Mugou Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, sudah terlihat gapura. Lalu masuk ke dalam kawasan hutan yang bisa ditempuh dengan kendaraan sejauh lebih kurang satu kilometer. Kemudian jalan kaki menuruni dan menaiki tangga sejauh 100 meter.

Makam Teuku Umar sangat sederhana, hanya berupa gundukan batu kerikil dengan nisan batu polos berukuran kecil. Makamnya dilindungi oleh bangunan cungkup rendah terbuka, dan berada di dalam kawasan hutan Glee Mugou.

Dahlia menjelaskan, semasa hidupnya Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien sama-sama bekerja keras berjuang untuk melawan Belanda. Melihat tentara Aceh semakin hari semakin terdesak oleh serangan agresif pasukan Belanda, Teuku Umar memasang siasat dan taktik strategi untuk berpura-pura memihak dan bekerja sama dengan Belanda.

Pada tahun 1883, Teuku Umar menyerahkan diri dan memihak kepada Belanda. Umar dipercaya melatih tentara Belanda perang gerilya dan memimpin penumpasan perlawanan rakyat Aceh. Hingga akhirnya Umar dapat hadiah besar berupa uang dan materi lainnya. Hadiah itu digunakan untuk menambah modal perang tentara Aceh yang dikirim secara rahasia.

Bahkan ketika Umar ditugasi menumpas Raja Teunom yang menawan kapal Inggris, Teuku Umar dalam perjalanan merebut seluruh senjata dan seluruh amunisinya beserta seluruh perlengkapan perang tentara Belanda yang menyertainya.

Pada Februari 1899 Jenderal Van Heutsz berada di Meulaboh, Teuku Umar berniat mencegat dan menangkapnya. Namun, justru gerak gerik Umar telah diketahui Belanda, sehingga Belanda menyiapkan pasukan yang cukup kuat di perbatasan Meulaboh untuk menghadang Umar.

Pada malam menjelang 11 Februari 1899 Umar kaget pasukannya dihadang Belanda. Pertempuran hebat pun terjadi. Teuku Umar gugur terkena peluru musuh yang menembus dadanya. Agar jenazah Umar tak diambil Belanda, anak buah Umar membawanya dan mengelabui dengan membuat enam petilasan makam dan terakhir di tempat Teuku Umar dimakamkan sekarang, di Desa Meugo, sekitar 40 km dari Kota Meulaboh.

Kuburan Teuku Umar dilengkapi sejumlah fasilitas, sepert balai-balai, musholla, toilet, dan lainnya. Makam Teuku Umar tampak sederhana, berukuran sekitar 2 x 3 m., ditembok di setiap sisinya dengan batu-batu koral bertebaran menutupi bagian tengahnya.

Aura keagungan yang mistis terkesan menyeruak dari makam yang berada di dalam sebuah bangunan ala pendopo dengan berlantai pualam dan atap berciri bangunan tradisional Aceh. Di kepala makam terlihat plakat bertuliskan bahwa makam tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir salah seorang putra bangsa terbaik Aceh sekaligus pahlawan nasional, pejuang melawan penjajah Belanda.

Silsilah 'Auliya’ Batu Ampar Madura

Inilah kisah yang meluruskan tentang animo masyarakat akan kebenaran silsilah keturunan Auliya/Pemuka agama dilingkungan Buju’ Batu Ampar. Semata-mata untuk mengembalikan kesadaran kita tentang nilai kebesaran Allah SWT. Seperti yang terdapat di Pesarean Buju’ Batu ampar ini adalah kekasih-kekasih Allah yang telah mendapatkan karomah atas kemurahan rahmat dan hidayah-Nya.

Kisah ini semoga menjadi teladan serta penuntun bagi kaum muslimin dan muslimat dalam sebuah perjalanan menuju cita-cita mulia, guna menjadi INSAN KAMIL yang memegang teguh, menjaga serta memelihara kemurnian islam hingga hari yang dijanjikan ( kiamat ).
Wallahu a’lam Bisshawab.

Silsilah Auliya’ Batu Ampar, Madura
Sayyid Husein, berputra :

    * Syekh Abdul Manan / Buju’ Kosambi
    * Syekh Abdul Rohim / Buju’ Bire
    * Syekh Abdul manan / Buju’ Kosambi, berputra…
    * Syekh Basyaniah / Buju’Tumpeng, berputra…
    * Syekh Abu Syamsudin ( Su’adi ) / Buju’ Latthong, berputra 3 :
    * Syekh Husein, berputra : ( ket. Dibawah )
    * Syekh Lukman berputra : Syekh Muhammad Yasin
    * Syekh Syamsudin, berputra : Syekh Buddih
    * Syekh Husein, berputra…
    * Syekh Muhammad Ramly, berputra..
    * KH. Damanhuri, berputra/ putri 10 :

   1. KH. Amar Fadli
   2. KH. Mukhlis
   3. KH. Romli
   4. KH. Mahalli
   5. KH. Kholil
   6. KH. Abdul Qodir
   7. KH.Ach. Fauzy Damanhuri
   8. KH. Ainul Yaqin
   9. Nyai Hasanah
  10. Nyai Zubaidah

Sayyid Husein
Disuatu desa diwilayah Bangkalan, tersebutlah seorang pemuka agama Islam yang bernama Sayyid Husein. Beliau mempunyai banyak pengikut karena ketinggian ilmu Agamanya. Selain akhlaknya yang berbudi luhur, beliau juga memilikibanyak karomah karena kedekatannya dengan sang Kholiq.Beliau sangatdihormati pengikutnya dan semua penduduk disekitar bangkalan.

Namun bukan berarti beliau lepas dari orang yang membencinya.Disebabkan karena mereka iri dengan kedudukan beliau dimata masyarakat saat itu.Hingga suatu hari ada seseorang penduduk yangiri dengki dan berniat buruk mencelakai dan menghancurkan kedudukan Sayyid Husein.Orang itu merekayasa cerita fitnah, bahwa Sayyid Husein bersama pengikutnya telah merencanakan pemberontakan dan ingin menggulingkan kekuasaan raja Madura.

Alhasil cerita fitnah ini sampai ditelinga sang Raja. Mendengar kabar itu Raja kalang-kabut dan tanpa pikir panjang mengutus panglima perang bersama pasukan untuk menuju kediaman Sayyid Husein.Sayyid Husein yang saat itu sedang beristirahat langsung dikepung dan dibunuh secara kejam oleh prajurit kerajaan.Mereka melakukan hal itu tanpa pikir panjang dan disertai bukti yang kuat. Akhirnya Sayyid Husein yang tidak bersalah itu wafat seketika itu juga dan konon jenazahnya dikebumikan diperkampungan tersebut.

Selang beberapa hari dari wafatnya Sayyid Husein, Raja mendapat berita yang mengejutkan dan sungguh mengecewakan, serta menyesali keputusannya yang samasekali tidak didasari bukti-bukti yang kuat. Berita tadi mengabarkan bahwa sebenarnya SayyidHusein tidak bersalah, karena sesungguhnya beliau telah difitnah.Karena sangat menyesali perbuatannya, Raja Bangkalan memberikan gelar kepada beliau dengan sebutan Buju’ Banyu Sangkah ( Buyut Banyu Sangkah ). Dan tempat peristirahatan beliau terletak dikawasan Tanjung Bumi, Bangkalan.

Sayyid Husein wafat dengan meninggalkan duaorang putra. Yang pertama bernama Abdul Manan dan yang kedua bernama Abdul Rohiim. Kedua putra beliau ini sepakat untuk pergi menghindari keadaan dikampung tersebut. Syekh Abdul Rohim lari menuju Desa Bire ( Kabupaten Bangkalan ), dan menetap disana sampai akhir hayat beliau. Dan akhirnya beliau terkenal sebagai Buju’ Bire ( Buyut Bire ). Wallahu a’lam

Syekh Abdul Manan ( Buju’ Kosambi )
Lain halnya dengan SyekhAbdul Manan. Beliau pergi mengasingkan diri dan menjauh dari kekuasaan Raja Bangkalan. Hari demi hari dilaluinya dengan sengsara dan penuh penderitaan. Beliau sangat terpukul sekali kehilangan orang yang sangat dikasihinya.Hingga akhirnya beliau sampai disebuah hutan lebat ditengah perbukitan diwilayah Batu ampar ( Kabupaten Pamekasan ). Dihutan inilah akhirnya beliau bertapa / bertirakat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.Dalam melaksanakan hajatnya beliau memilih tempat dibawah Pohon Kosambi. Syahdan tapa beliau ini berlangsung selama 41 tahun. Saat memulai tapaitu beliau berumur 21 tahun. Hingga akhirnya beliau ditemukan anak seorang penduduk desa ( Wanita ) yang sedang mencari kayu dihutan.

Singkat cerita akhirnya Syekh abdul Manan dibawa kerumahnya. Dari hubungan tersebut, timbullah kesepakan antara orang tua si anak tersebut untuk menjodohkan Syekh abdulManan dengan salah seorang putrinya. Sebagaitanda terima kasih, beliau memilih si sulung sebagai istrinya, walaupun dalam kenyataannya sisulung menderita penyakit kulit. Anehnya terjadi keajaiban di hari ke 41 pernikahan mereka. Saat itu juga sang istri yang semula menderita penyakit kulit tiba-tiba sembuh seketika. Dan bukan hanya itu kulitnya bertambah putih bersih dan cantik jelita, sampai-sampai kecantikannya tersiar kemana-mana.Dankonon kabarnya pula bahwa Raja Sumenep mengagumi dan tertarik akan kecantikan istri Syekh Abdul manan ini.

Dari pernikahan ini, beliau dikarunia seorang putra yang bernama Taqihul Muqadam , setelah itu menyusul pula puta kedua yang diberi nama Basyaniah . Setelah bertahun-tahun menjalankan tugasnya sebagai Khalifah, akhirnya beliau wafat dengan meninggalkan duaorang putra. Jenazahnya dimaqamkan di Batu Ampar dan terkenal dengan julukan Buju’ Kosambi. Dan putra pertama beliau juga saat wafat jenazahnya dikebumikan didekat pusaranya. Wallahu a’lam.

Syekh Basyaniah ( Buju’ Tumpeng )
Putra kedua Syekh Abdul manan yang bernama Basyaniah inilah yang mengikuti jejak ayahanda. Beliau senang bertapa dan cenderung menjauhkan diri dari pergaulan dengan masyarakat. Dan beliau juga selalu menutupi karomahnya.Ketertutupan beliau ini semata-mata bertujuan untuk menjaga keturunannya kelak dikemudian hari agar menjadi insan kamil atau manusia sempurna dan sholeh melebihi diri beliauserta menjadi khalifah yang arif dimuka bumi.

Dalam menjalani hajatnyabeliau bertapa dan memilih tempat disuatu perbukitan yang terkenal dengan nama Gunung Tompeng yakni suatu bukit sepi dan sunyi yang penuh dengan tanda-tanda kebesaran Illahi. Bukit tersebut terletak kurang lebih 500 m arah barat daya ( antara Barat-Selatan ) dari Desa batu Ampar.

Saat wafatnya beliau meninggalkan seorang putra yang bernama Su’adi atau terkenal dengan sebutan Syekh Abu Syamsudin dan mendapat julukan Buju’ Latthong. Sedang jenazah Syekh Basyaniah dikebumikan berdekatan dengan pusara Ayahanda. Beliau akhirnya mendapatjulukan Buju’ Tumpeng .
Wallahu a’lam

Syekh Abu Syamsudin ( Buju’ Latthong )
Kisah hidup putra tunggalSyekh Basyaniah ini tidak berbeda dengan perjalanan hidup yang pernah ditempuh oleh ayahanda dan buyutnya yakni gemar bertapa dan selalu menyendiri bertirakat serta selalu berpindah-pindah dalam melakukan tapanya.Misalnya salah satu tempat pertapaanyayang ditemukan didekat kampung Aeng Nyono’ . Wilayah tempat tersebut ada ditengah hutan yang lebat. Karena seringnya tempat tersebut dipergunakan sebagai lokasi tirakat / bertapa, oleh penduduk setempat dinamakan Kampung Pertapaan.

Begitu juga bukit yang ada dikampung Aeng Nyono’ yang menjadi tempat bertapanya Syekh Syamsudin. Disana terdapat sebuah kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada manusia sampai sekarang. Tepat disebelah barat tempat beliau bertapa terdapat sumber mata air yang mengalir ke atas Bukit Pertapaan. Konon Syekh Syamsudin mencelupkan tongkatnya sampai akhirnya mengalir ke atasbukit hingga kini. Masya Allah…sungguh merupakan karunia yang besar dan jauh diluar akal manusia. Atas dasar keajaiban itulah yang menjadi asal-usul nama kampung Aeng Nyono’ ( Bahasa Madura ) artinya air yang menyelinap/mengalir ke atas. Dan konon dengan air inilah beliau berwudhu dan bersuci.

Asal usul sebutan Buju’ Latthong
Keramat itu muncul karena disebabkan keluarnya sinar dari dada beliau. Apabila sinar itu dilihat oleh orang yang berdosa dan belum bertaubat, maka orang tersebut akan pingsan atau tewas.Kisah lain menceritakan karena seorang yang berjuluk Buju’ Sarabe yang bertabiat buruk berniat menghabisi beliau. Banyak penduduk desa yang dibunuhnya. Tetapi ketika akan menghabisi Syekh Syamsudin, ketika Buju’ Sarabe dan anak buahnya mencabut senjata, mendadak senjata itu lenyap dan tinggal warangkannya.Setelah mengaku kalah dan memohon agar senjatanya dikembalikan, Syekh Syamsudin menunjukkan letak senjata tersebut yang berada dalam Latthong ( Bahasa madura yang berarti kotoran sapi ).


Sebab itulah karena khawatir tentang hal itu, maka beliau menutupi dadanya dengan cara mengoleskan Latthong disekitar dada beliau. Banyak sekali kisah kekeramatan beliau. Setelah cukup menjalani darma baktinya sebagai Khalifah, akhirnya beliau wafat dengan meninggalkan tiga orang putra. Dan dikebumikan diBatu ampar, madura. Wallahu a’lam

Syekh Husein
Sepeerti halnya pendahulunya, syekh Husein inipun senang menjalani laku tirakat. Selain itu beliau ini terkenal akan kecerdasanpikirannya. Beliau hapal Kitab Ihya Ulumuddin Imam Ghozaly. Bahkan hapalannya sedemikian akurat sampai titik dan baris dikitab itu beliau mengetahuinya. Masa bertapa Syekh Husein ini tidaklah selama pendahulunya. Disebabkan perobahan zaman, maka tempat tinggal dan daerah sekitar telah menjadi ramai oleh pendatang. Beliau banyak bergaul danmenjadi pemuka masyarakat dan tokoh agama yang disegani. Danbeliau adalah keturunan terakhir dari Sayyid Husein yang mempunyai kegemaran bertapa dan menjalankan laku tirakat.Keturunan sesudahnya cenderung untuk merantau dan mencari guru untuk menuntut ilmu. Wallahu a’lam

Syekh Muhammad Ramly
Putera tunggal Syekh Husein ini sejak kecil senang sekali menuntut ilmu. Hingga menjelang dewasannya beliau pergi menuntut ilmu dan menuju Kabupaten bangkalan. Disana beliau berguru dan menuntut ilmu kepada seorang Waliyullah yang bernama Syaikhona Kholil, Bangkalan. Setelah cukupmenimba ilmu dengan sang Waliyullah, beliau menuju ke Saudi Arabia. Dan menetap disana selama 10 tahun.

Setelah cukup 10 tahun, akhirnya beliau kembali dan menetap ditanah asal, batu ampar. Beliau menjadi panutan masyarakat dalam kehidupan beragama. Setelah berkeluarga, beliau dikaruniai seorang putra yang diberi nama Damanhuri . Sayang sekali kehidupan beliau sangat singkat. Saat puteranya masih membutuhkan kaih sayangnya, beliau akhirnya wafat dan dimaqamkan dipesarean Batu ampar. Wallahu a’lam

Syekh Damanhuri
Semasa hidupnya Syekh Damanhuri tidak banyak mendapatkan belaian kasih sayang dari Ayahandanya. Hingga akhirnya beliau di asuh sendiri oleh sang kakek ( Syekh Husein ).Beliau mendapatkan bimbingan dan tuntunan beragama secara langsung dari Syekh Husein. Akhirnya setelah cukup umur, beliau pergi menuntut ilmu ditempat Ayahandanya dahulu belajar. Yaitu ditempat Syaikhona Kholil, Bangkalan.

Singkat cerita setelah cukup menimba ilmu di pesantren Syaikhona Kholil, beliau akhirnya kembali ke kampung halaman.Seperti halnya para pendahulu, beliaupun menjadi Tokoh masyarakat di batu Ampar. Syekh Damanhuri mempunyai 2 orang istri. Dari istri pertamanya dikaruniai 2 orang anak ( KH.Umar Fadli dan Nyai Hasanah ) dan bersama istri yang kedua dikaruniai 8 orang putra/putri ( KH.Romli, KH.Mahalli, KH.Ach.Fauzy, KH.Mukhlis, Nyai Zubaidah, KH.Kholil, KH. Abdul Qodir dan KH.’Ainul Yaqin ) Dan diantara putranya yang masih ada itulah, yang menjadi generasi penerusnya. Sebagai panutan dan pembimbing serta kholifah dimuka bumi ini demi terpeliharanya kesucian dan kemurnian Islam untuk masa yang kita tidak ketahui batasnya.

Demikianlah sekilas kisah Para Buju’ Batu Ampar. Semoga kisah ini bermanfaat bagi pembaca dan pewaris Ilmu-ilmu Raje. Jadikanlah beliau diatas sebagai teladan dan hikmah. Wallahu a’lam Wassalamu’alaikum, wr.wb. Jazakumullah bi ahsanal jaza.



Makam Sunan Gunung Jati

Dihiasi dengan keramik buatan Cina jaman Dinasti Ming. Di komplek makam ini di samping tempat dimakamkannya Sunan Gunung Jati juga tempat dimakamkannya Fatahilah panglima perang pembebasan Batavia. Lokasi ini merupakan komplek pemakaman bagi keluarga Keraton Cirebon, terletak + 6 Km ke arah Utara dari Kota Cirebon.

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M, namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

Makam Syekh Umar Sutadrana





Makam Syekh Umar Sutadrana salah satu makam yang terkenal di Wonosobo. Bahkan sampai manca negara, terutama Malaysia dan Singapura. Terletak di Dusun Kaligintung Desa Guntur Madu Kecamatan Watumalang, makam kuna ini tak pernah sepi peziarah. Konon, banyak berdoa di tempat itu banyak terkabulnya. Hanya saja, peziarah sudah diwanti-wanti untuk tidak memohon hal-hal buruk, berbau kemaksiatan. Bila pantangan ini dilanggar, akan diusir oleh penghuninya.

Dusun Kaligintung berada di perbukitan. Pemandangan kanan kiri cukup indah. Hamparan sawah menghijau dan gemericik air sungai mengalir menambah ketenangan desa di ketinggian itu. Makam Syekh Umar Sutadrana terletak di pemakaman desa. Melewati jalan kecil bercor melewati perkampungan.

Cungkup atau rumah yang melindungi makam dibuat sedemikian rupa. Di dalamnya terdapat makam Syekh Umar Sutadrana dan istrinya. Namun tidak berdampingan. Berada di bawah. Selain itu di dalam makam juga terdapat tempat bersemedi. Dilengkapi kamar mandi dan ruang dapur. Sehingga jauh dari kesan seram maupun horor.

Suasana makam sangat sejuk. Angin berhembus leluasa dari perbukitan di kanan kompleks makam. Tak heran bila peziarah betah berlama-lama di situ. Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Australia.

Di buku tamu yang disediakan juru kunci atau sesepuh desa Patah Tjitpto Suwiryo, tertulis pengunjung dari Surabaya, Lumajang, Jakarta, Semarang, Solo dan kota-kota sekitar Wonosobo. Siapa Syekh Umar Sutadrana, sehingga makamnya begitu dikenal hingga negeri jiran?

“Beliau datang dari Arab, keturunan ke-31 Nabi Muhammad. Datang ke Indonesia tahun 1820 bersama ayahnya Syekh Abdul Rahim. Sebagai pedagang sekaligus menyebarkan agama Islam. Menginjakkan tanah Jawa pertama kali di Jogjakarta,”ujar Patah Tjipto Suwiryo mengawali ceritanya.

Nama aslinya hanya Umar, kemudian membaur dengan orang Jawa ditambahi Sutadrana. Lantas ia bersama ayahnya menjadi prajurit Mataram. Berjuang melawan penjajah Belanda di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro. Ketika Belanda berhasil memukul perlawanan Pangerang Diponegoro, prajuritnya kocar-kacir. Syekh Umar dan ayahnya lari ke Wonosobo. Bersembunyi di suatu tempat yang kini disebut Sudagaran. Hingga memiliki 6 anak dari istri yang berasal dari Jogja.

“Enam anaknya itu bernama Eyang Jami, Eyang Mangundrana, Noyodrono, Singodrono, Surodipo, dan Abdullah. Singodrono itu Eyang saya, sedangkan Abdullah menurunkan anak-anak yang kini berada di Singapura,”cerita pria beranak 7 itu dengan runtut.

Meskipun sudah lama bermukim di Sudagaran, ternyata tentara Belanda masih mencium jejaknya. Akhirnya diputuskan, untuk pindah ke pinggiran kota agar lebih aman. Dusun Kaligintung Desa Guntur Madu menjadi pilihan keluarga besar Syekh Umar untuk menetap. Hingga akhir hayatnya, dia tinggal di desa tersebut. Sementara anak keturunannya tersebar di berbagai kota sekaligus di Malaysia.

Makam Syekh Umar dikeramatkan oleh penduduk setempat. Karena memiliki keanehan-keanehan. Dikatakan Patah, sebelum dibangun, makam berada persis di bawah pohon wuru. Daunnya lebat. Anehnya, daun-daun kering itu tak pernah jatuh di atas pusaranya. Tetapi berada di pinggir-pinggir. Sehingga makam selalu bersih. Di atas makam terdapat jalan setapak. Kata Patah, kalau ada orang ingin lewat di jalan tersebut berpikir berulangkali. Pasalnya, seringkali terjadi keanehan. Mendadak muncul cahaya putih yang berasal dari pusara.

Ketika akan dibangun cungkup, Patah sangat berhati-hati. Sebab Syekh Umar sudah berpesan tidak ingin dibuat cungkup yang menutupi keseluruhan makam. Namun diizinkan untuk diperbaiki. “Sehingga makamnya tetap utuh seperti itu. Dua batu nisan kuna tidak diganti, begitu juga tanahnya. Tembok di sekeliling tidak tertutup rapat. Suasana makam cukup sejuk dan mendukung sekali untuk berdoa,”tandasnya.

Jangan sekali-sekali datang ke makam dengan niat berdoa untuk kemaksiatan atau keburukan. Peringatan itu disampaikan Patah Tjipto pada siapa saja yang hendak berziarah. Permohonan atau doa hanya untuk kebaikan, tidak lebih. Dikatakan pensiunan kepala sekolah SD Guntur Madu itu, pernah ada kejadian unik yang dialami peziarah.

Pengunjung dari Pati itu berziarah karena pikirannya sudah bumpet, terjerat hutang ratusan juta. Saat berdoa khusuk, dia merasa di depannya ada sekotak uang. Reflek ia ingin mengambilnya. Namun tak teraih, padahal berada tepat di depannya. Kejadian semacam itu, kata Patah hanya sebagai gambaran. Untuk meraih cita-cita perlu ada daya upaya. Tidak hanya dilakukan dengan doa, tapi diikuti oleh usaha.

Cerita lain adalah ketika peziarah dari Madiun diusir dari makam oleh penghuninya. Barangkali peziarah ini meminta hal-hal yang tidak diperkenankan. “Entah apa yang diminta. Ketika sedang tahlilan mendadak dia merasa di sampingnya muncul asap putih. Lama kelamaan menebal membentuk sosok pria bersurban putih. Lalu mengucapkan kata-kata ‘pulang’ sembari tangannya mengusir peziarah itu. Karuan, dia langsung meninggalkan makam,”ujarnya kepada Radar Semarang ketika berkunjung ke rumahnya di Guntur Madu beberapa waktu lalu.

Kejadian itu untuk memperingatkan para peziarah agar tidak memohon hal-hal yang neko-neko. Pernah pula, seorang peziarah diwajibkan membersihkan lingkungan makam karena ada tikus mati. Pada hari pertama datang, ada bangkai tikus. Terpaksa, pengunjung membersihkan. Beberapa saat tertidur, ketika bangun, kembali ditemukan bangkai tikus. Keanehan inilah yang membuat makam tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat.

Bagi mereka yang benar-benar ingin terkabul cita-citanya harus melewati serangkaian godaan. Saat berada di makam, akan muncul ular berjalan di dekatnya. Kemudian datang harimau menguji keberaniannya.
“Terakhir ada pocongan yang menghampiri lalu jatuh di pangkuannya. Apakah peziarah akan mampu menghadapi berbagai cobaan itu,”katanya setengah bertanya.

Makam Syekh Umar diresmikan pada awal tahun 1993. Ribuan masyarakat dari Palembang, Jakarta, Bandung datang. Tidak ketinggalan keturunannya dari Malaysia dan Singapura juga ikut menyaksikan. Makam diresmikan oleh Bupati Wonosobo yang waktu itu masih dijabat oleh Sumadi.

Tiap tahun peziarah dari Malaysia dan Singapura pasti datang. Semula hanya beberapa orang, kini rombongan sampai ratusan. Mereka berasal dari organisasi keagamaan Rufaqa dan Awariyun. Pernah pula bertandang Persatuan Islam dan Pencaksilat Singapura (Prepensis) pada tahun 1994.

Patah sendiri mengaku sering merasakan rindu bila 3 hari tak mengunjungi makam. Suasana yang sejuk, membuat hati tentram. Dan sangat mendukung kekhusukan dalam berdoa. Kehadiran para peziarah sedikit banyak berimbas positif pada perekonomian warga setempat. Sejumlah rumah di Dusun Kaligintung mayoritas tembok dan dibangun dengan bagus.

Makam Habib Kuncung

Keramat selalu mengundang daya tarik bagi orang ramai. Terutama ketika menyangkut yang sudah pergi. Adalah sebuah makam keramat seorang habib, Habib Kuncung, di Kalibata, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu membikin ribuan orang berebut mencium pusaranya.

Dalam gelaran ziarah akbar ini, pengunjung dari berbagai wilayah Jabotadebek berduyun-duyun mendatangi makam Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad atau Habib Kuncung, yang dipercaya sebagai salah satu keturunan Nabi Muhammad.

Sejak pagi komplek makam Keluarga Habib Abdullah Bin Ja’far Alhaddad ini terlihat ramai terutama sepanjang jalan menuju makam. Di kanan kiri jalan para pedagang pernak- pernik seperti tasbih, baju muslim dan minyak wangi juga tidak ketinggalan menyemarakkan ziarah kali ini.

Pengunjung yang sebagian besar laki-laki dengan setelan putih-putih terlihat memenuhi komplek makam dan rela duduk di sela-sela makam untuk melanturkan Surat Yasiin dan Tahlil secara berjamaah.

Imam, seorang peziarah dari Depok mengatakan bahwa kedatangannnya ke sini merupakan kegiatan rutin yang diikutinya selama sethun terakhir agar mendapat syafaat dari Nabi dengan memuliakan keturunan-keturunan Nabi.

Dengan khidmat para pengunjung mengikuti setiap rangkaian acara termasuk ketika hidangan mulai diedarkan oleh penyelenggara. Nasi Kebuli dengan daging kambing yang menjadi hidangan bagi pengunjung sore itu tersaji dalam wadah berwarna hijau yang disantap dua sampai tiga orang. Tanpa sendok dan garpu dalam beberapa menit, sajian yang ada tandas.



Setelah para habib yang memimpin doa meninggalkan komplek makam, para pengunjung berjubal-jubal mendekati pusara Sang Habib. Agak berebut pengunjung berusaha untuk mencium pusara yang dikeramatkan itu. Tak hanya laki-laki, beberapa pengunjung perempuan bahkan anak-anak juga ikut berdesakan melakukan hal yang sama.

Ada hal yang cukup aneh, selepas doa penutup Tahlil, tiba-tiba terdengar ledakan yang cukup keras di belakang komplek makam. Beberapa orang berlari ke sumber suara yang ternyata berasal dari suara petasan yang dibakar salah seorang peziarah. Tak ada yang protes, sehingga nampaknya ini merupakan bagian dari acara yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Menjelang petang acara selesai dan pengunjung mulai meninggalkan tempat acara. Tak lupa, air dari gentong-gentong di pinggir makam dibawa pulang sebagai bekal. Jalan-jalan semakin lengang dengan sisa para pedagang yang mengemasi sisa dagangannya.



Namun, satu hal yang masih menyisakan keheranan, kehidupan kaum urban di Jakarta memang sulit untuk dipahami, terutama ketika dihubungkan dengan ke-keramatan.

Makam di Tebing Sungai Serayu Kyai Nurizal

Makam-makam kuna di Wonosobo memiliki daya tarik tinggi. Terbukti setiap hari, nyaris tak henti para peziarah datang. Mereka memiliki keyakinan, berdoa di makam para tokoh ini keinginan cepat terkabul. Salah satunya di makam Kyai Nurizal di Dusun Lempong Desa Kalierang Kecamatan Selomerto.

Tak sedikit peziarah yang datang dengan berbagai permintaan. Banyak pula yang terkabul saat berdoa di makam tersebut. Dusun Lempong Desa Kalierang tak begitu jauh dari Kota Wonosobo, sekitar 7 kilometer. Menuju makam dari Dusun Lempong harus melalui jalan setapak sekitar 500 meter.

Kyai Nurizal atau warga setempat menyebutkan Mbah Nurizal konon merupakan teman seperjuangan Tumenggung Jogonegoro dalam melawan penjajah. Dugaan cukup masuk akal. Antara makam Jogonegoro dan Mbah Nurizal lokasinya tak begitu jauh. Sama-sama berada di wilayah Kecamatan Selomerto.
‘Tumenggung Jogonegoro merupakan tokoh pemerintahan, sedangkan Mbah Nurizal alim ulama. Keduanya bahu-membahu dalam memajukan pemerintahan waktu itu,”papar Muhammad Muslim, tokoh masyarakat sekaligus juru kunci makam.

Mbah Nurizal, diketahui sebagai prajurit Keraton Jogjakarta yang tangguh. Saat berjuang, bersama Tumenggung Jogonegoro yang nama kecilnya Raden Ontokoesoemo dikejar-kejar oleh Belanda. Akhirnya sampai di Dusun Lempong menjadi tokoh penyebar agama Islam pertama kali. Sekaligus pendiri Dusun Lempong. Anak keturunannya juga menjadi ulama yang disegani.

“Mbah Nurizal dijuluki Karto Siluman, karena pintar mengecoh musuhnya. Kalau diburu hilang, lalu muncul lagi di tempat berbeda. Seperti siluman, sehingga musuhnya kuwalahan,”katanya.

Sayangnya tidak ada catatan pasti sekitar tahun berapa, Kyai Nurizal berada di Dusun Lempong. Tidak terdaftar pula silsilah keluarganya. Apakah masih ada keturunan dari bangsawan keraton Jogja atau tidak. Muhammad Muslim pun mengaku tidak mengetahui secara pasti, meskipun ia termasuk keturunannya. Menurut dia, Mbah Nurizal memiliki anak Kyai Ali Muhammad, menurunkan anak Ali Ibrahim. Kemudian berturut-turut Ali Mustar, Ali Rahmat, Muhammad Tarmudzi dan Muhammad Muslim sendiri.

Sebagai pendiri dusun, Kyai Nurizal mempunyai pengaruh ketokohan yang kuat. Tak heran, bila sekarang makamnya kerap diziarahi banyak orang. Mereka berasal dari berbagai kota. Seperti Magelang, Purworejo, Temanggung dan Parakan.

Dusun Lempong dapat dicapai dengan mudah dengan akses jalan cukup bagus, beraspal. Yang menjadi kendala adalah jalan menuju makam Kyai Nurizal. Makam ini terletak di atas Sungai Serayu, di pinggir saluran irigasi besar. Tidak bercampur dengan makam warga setempat.

Namun berada dalam satu kompleks pemakaman keluarga. Terdiri dari sejumlah makam kuna yang tidak diketahui satu per satu siapa saja yang disemayamkan di situ. Makam Mbah Nurizal sendiri dibangun kijing baru. Dikatakan Muslim, pembangunan kijing belum lama.

“Inisiatif dari salah seorang peziarah. Karena doanya terkabul, ia bermaksud membangun makam. Saya sendiri sebagai anak keturunannya tidak berani karena biasanya, tokoh-tokoh semacam itu makamnya tak mau dibangun. Tapi karena ini permintaan peziarah, saya tidak kuasa menolak,”tuturnya.

Seperti halnya makam-makam yang lain, terdapat pohon besar yang menaungi peristirahatan terakhir. Sebuah pohon gintung besar tumbuh di pinggir makam. Tepat di bawahnya, terdapat makam Kyai Ali Rahmat. Getah pohon gintung kata Muslim, berkasiat sebagai perekat atau lem. Bila ada kitab-kitab kuna atau Alquran lepas, dilem dengan getah gintung melekat kuat.

Pemandangan alami disuguhkan di depan makam. Di bawahnya Sungai Serayu yang berair deras, pinggirnya pohon-pohon kelapa melambai. Terhampar tanaman padi menghijau terasering. Berada di makam terasa sangat sejuk. Lelah perjalanan, sirna dihembus semilir angin.

Banyak Godaan, Keinginan Terkabul
Para peziarah yang datang ke makam Mbah Nurizal memiliki keinginan bermacam-macam. Naik jabatan, pangkat maupun usahanya lancar. Ditegaskan Muhammad Muslim, para peziarah dilarang menyembah makam atau meminta pada Mbah Nurizal.

“Berdoa tetap pada Allah SWT tidak boleh meminta apapun pada Mbah Nurizal. Makam itu hanya sebagai wasilah,”tegasnya.

Banyak peziarah yang mengaku mendapatkan firasat setelah beberapa kali berdoa di makam. Disebutkan bapak beranak 9 itu, ada seorang kyai terkenal yang sebelumnya tidak bisa berdakwah. Selama 3 hari berturut-turut berdoa di makam. Esoknya menemukan sarang burung berisi telur-telur. Anehnya, sarang itu berada di ranting pohon yang sangat rendah. Sungguh tidak masuk akal. Sarang tersebut tidak diambilnya. Paginya, ketika dia kembali ke makam, telur-telur itu telah menetas, ternyata burung kutilang.

“Hari terakhir datang ke makam, sarang burung telah lenyap. Itu sebuah pertanda, bahwa orang itu akan menjadi seorang mubalik. Orang yang banyak omong, suka memberi ceramah. Seperti burung kutilang yang suka ngoceh. Sampai sekarang dia menjadi mubalik yang terkenal,”jelasnya.

Pada malam Jumat biasanya banyak peziarah datang. Menjelang pilihan kepala desa ini, makam kerap didatangi. Bahkan calon-calon bupati Wonosobo dulu pernah juga berziarah.

Semakin banyak godaan, kata Muslim, keinginan bakal cepat terkabul. Tidak sedikit yang mengalami berbagai peristiwa selama berziarah. Seperti melihat harimau, suara anjing melolong. Kadang-kadang peziarah mendengar bisikan lirih di kupingnya.

“Kalau mulai digoda hal-hal gaib seperti itu, pertanda bakal cepat tercapai cita-citanya. Tapi kalau hanya biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh, harus sabar. Firasat itu kadang lewat mimpi,”ceritanya.

Bahkan, tambahnya, sekitar tahun 1970-an, tidak ada gempa, tak ada angin, para peziarah merasakan makam bergoyang hebat. Tapi tidak menimbulkan korban. Karena itu hanya perasaan masing-masing peziarah. Malam hari, suasana di makam lebih sunyi, dan tintrim. Justru itulah saat yang tepat berdoa khusuk pada Tuhan. 



Patilasan Sunan Haruman Syekh Ja’far Shidiq dan Sambal Cibiuk

Banyak tokoh yang terkenal jasanya dalam menyebarkan Islam di Kab. Garut yang gaungnya meluas hingga luar daerah. Salah satunya adalah Syekh Ja’far Shidiq asal Kec. Cibiuk yang juga dikenal dengan sebutan Mbah Wali Cibiuk. Ia hidup sezaman, bahkan dikenal bersahabat baik dengan penyebar Islam lainnya di daerah Tasikmalaya, Syekh Abdul Muhyi.

Karena jasanya yang besar dalam menyebarkan Islam serta perkembangan kehidupan masyarakat Garut, khususnya di Garut Utara, makamnya yang terletak di kaki Gunung Haruman Desa Cipareuan, Kec. Cibiuk tak pernah sepi dari para peziarah. Belakangan, makam Syekh Ja’far Shidiq ini dijadikan Pemkab Garut sebagai salah satu objek wisata ziarah, tergolong ke dalam atraksi budaya peninggalan sejarah dengan bentukan fisik (relik/artefak) berupa makam. Selain berdoa dan menafakuri kiprah perjuangan Syekh Ja’far Shidiq dalam menyebarkan Islam, para peziarah juga dapat mempelajari kebudayaan, khususnya sejarah dan kebudayaan Islam.

Syekh Ja’far Shidiq tidak henti-hentinya mendorong umat untuk terus menggali serta mengembangkan ilmu dan kemajuan ekonomi, termasuk keahlian membuat makanan. Salah satu warisan dari Syekh Ja’far Shidiq yang hingga saat ini terus dikenal, yaitu “sambal cibiuk” yang dikembangkan putrinya, Nyimas Ayu Fatimah. Sambal cibiuk bahkan sudah menjadi trade mark di sejumlah restoran di beberapa kota besar seperti Bandung dan Jakarta.

Syekh Ja’far Shidiq juga meninggalkan warisan lain yang tak kalah pentingnya bagi pengembangan Islam, yaitu sebuah bangunan masjid yang hingga kini masih bisa dimanfaatkan umat Islam untuk berbagai kegiatan keagamaan. Masjid yang dibangunnya memiliki ciri dan corak khas bangunan masjid buatan para wali di Pulau Jawa, yaitu beratap kerucut dengan disangga oleh tiang-tiang kayu kokoh yang sambungannya tidak menggunakan paku.

Pada bagian atas atapnya dipasang sebuah benda berukir terbuat dari batu yang disebut masyarakat setempat sebagai “pataka”. Diperkirakan bangunan masjid tersebut sudah berusia lebih dari 460 tahun. Masjid yang dikenal dengan sebutan masjid Mbah Wali tersebut terletak di Kp. Pasantren Tengah, Desa Cibiuk Kidul, Kec. Cibiuk. Sayangnya, bentuk bangunan masjid tersebut sudah banyak berubah dari aslinya. Sehingga harapan masyarakat setempat agar masjid tersebut bisa dijadikan salah satu bangunan cagar budaya sulit terwujud.

Menurut pengurus masjid Mbah Wali, Ahmad Zainal Muttaqien, masjid peninggalan Syekh Ja’far Shidiq tersebut aslinya berupa bangunan panggung berukuran 6 meter kali 6 meter terbuat dari bahan kayu dan bambu, dengan lantai dari palupuh (papan terbuat dari bambu, red). Atapnya berupa ijuk yang di atasnya dipasangi sebuah pataka. Masjid tersebut beberapa kali mengalami renovasi.
“Sekarang yang asli mungkin hanya tinggal kerangka dan bentuk bangunan serta patakanya itu. Atapnya sudah diganti genting dan palupuh juga sudah diganti dengan papan kayu,” katanya.
Saat ini, bangunan masjid Mbah Wali tersebut, bahkan sudah diperluas dengan cara disambungkan dengan bangunan masjid permanen di belakangnya yang berukuran 11 meter kali 13 meter. Perluasan bangunan dilakukan seiring bertambahnya jumlah penduduk di daerah tersebut. Dengan penambahan bangunan tersebut, masjid mampu memuat jemaah lebih dari 200 orang.

SEBELUM memulai ziarahnya ke makam Syekh Ja’far Shidiq di kaki Gunung Haruman, biasanya para peziarah terlebih dahulu datang ke Masjid Mbah Ali. Mereka yang datang ke Cibiuk selain dapat berziarah ke kompleks makam Syekh Ja’far Shidiq dan Masjid Mbah Wali Cibiuk, juga bisa menikmati wisata kuliner sambal cibiuk yang tersedia di sejumlah warung dan restoran sepanjang jalur Jalan Raya Cibiuk. Dalam beberapa waktu terakhir, kawasan Gunung Haruman juga sering dijadikan arena olahraga paragliding yang mengundang banyak peserta dan penonton.

Makam Syekh Ja’far Shidiq berada di tengah kompleks makam seluas 5 hektare. Lokasi makam berjarak sekitar 300 meter dari ibu kota Kecamatan Cibiuk atau 21 km dari arah kota Garut. Dari arah Bandung maupun Tasikmalaya dapat dijangkau melalui jalur Nagreg-Balubur Limbangan. Dari Terminal Balubur Limbangan, makam tersebut hanya berjarak sekitar 10 kilometer.

Makam Syekh Ja’far Shidiq terdiri atas empat kompleks makam utama yang semuanya merupakan kerabat dekatnya yang juga terbilang penyebar Islam di daerah Garut. Keempat kompleks adalah Makam Eyang Abdul Jabar yang berada di sebelah Timur, dan agak ke tengah adalah makam Syekh Ja’far Shidiq sendiri. Ke arah barat terletak makam Nyimas Ayu Siti Fatimah, dan paling ujung makam Mbah Muhammad Asyim. Keempat kompleks makam utama tersebut dibatasi masing-masing oleh pagar bambu.

Pada kompleks makam Syekh Abdul Jabar terdapat juga makam Mbah Mas’ud atau Rd. Dipakusumah (cucu mantu dari Sykeh Abdul Jabar), dan Nyimas Syu’batul Alam (istri Mbah Mas’ud). Pada kompleks makam Syekh Ja’far Shidiq terdapat juga makam Nyimas Ajeng Kalibah (istri Syekh Ja’far Shidiq), Nyimas Ajeng Sawiyah (juga istri Syekh Ja’far Shidiq), Nyimas Ajeng Arjawulan (masih istri Syekh Ja’far Syidiq), Eyang Badruddin (putra Syekh Ja’far Shidiq dari Nyimas Arjawulan), Eyang Mubarok, dan Eyang Zakaria.

Selanjutnya pada kompleks makam Nyimas Ayu Siti Fatimah terdapat juga makam Eyang Abdul Barri dan Nyimas Aini (saudari Nyimas Ayu Siti Fatimah). Pada kompleks makam Mbah Asyim (cucu mantu Nyimas Ayu Siti Fatimah) terdapat pula makam Mbah Muhammad Nail dan Mbah Muhammad Arif.

Syekh Abdul Jabar adalah seorang penyebar Islam yang pernah melanglang dan bermukim di sebuah daerah di Palembang, Sumatra Selatan. Konon, ketika ia kembali pulang ke kampung halamannya ke Cibiuk, Garut, masyarakat setempat menyebutkan bahwa sang prabu mulih atau pulang kembali. Sehingga dari situlah muncul nama Prabu Mulih untuk suatu daerah di Palembang, tempat Syekh Abdul Jabar pernah bermukim. Karena itu pula, ia sering juga disebut dengan nama Mbah Lembang, yang maksudnya asal Palembang.

Karena makamnya di kaki Gunung Haruman, Syekh Abdul Jabar sering disebut juga sebagai Sunan Haruman. Namun, sebutan Sunan Haruman juga terkadang ditujukan kepada Syekh Ja’far Shidiq.



Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Nurul Jati

Syekh Datuk Kahfi (dikenal juga dengan nama Syekh Idhofi atau Syekh Nurul Jati) adalah tokoh penyebar Islam di wilayah yang sekarang dikenal dengan Cirebon. Beliau juga merupakan leluhur dari raja-raja Sumedang era Islam.

Beliau pertama kali menyebarkan ajaran Islam di daerah Amparan Jati. Syekh Datuk Kahfi merupakan buyut dari Pangeran Santri (Ki Gedeng Sumedang), penguasa di Kerajaan Sumedang Larang, Jawa Barat.

Menurut legenda, di pantai utara Jawa Barat terdapat dua buah pesantren yang terkenal dan dipimpin oleh orang-orang keturunan Arab. Yang satu berada di Karawang, dipimpin oleh Syekh Quro dan yang satu lagi di Amparan Jati dipimpin oleh Syekh Nurjati atau Syekh Nurul Jati.

Sedangkan Syekh Dzatul Kahfi atau lebih mudah disebut Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Datuk Khafid yang bernama asli Idhafi Mahdi, adalah seorang muballigh asal Baghdad . Beliau tiba di Pelabuhan Muara Jati bersama rombongan sebanyak 22 orang, dua diantaranya adalah wanita, dan diterima dengan baik oleh Ki Jumajan Jati, sang syahbandar Pelabuhan Muara Jati, yang kemudian memperbolehkannya untuk menetap di sana.

Syekh Datuk Kahfi bersama rombongannya kemudian menjadi murid dari Syekh Nurjati. Bahkan kemudian, ketika memasuki usia yang telah lanjut, Syekh Nurjati lalu menunjuk Syekh Datuk Kahfi sebagai penggantinya untuk memimpin di pesantren Amparan Jati.

Tatkala Syekh Datuk Kahfi memimpin pesantren, majelis pengajiannya di Gunung Amparan Jati menjadi makin terkenal. Banyak sekali santri-santri yang ikut belajar agama Islam, diantaranya ialah putra-putri Prabu Siliwangi dengan Nyai Subanglarang. Mereka adalah Raden Walangsungsang dengan istrinya Indang Geulis, dan adiknya Nyai Rarasantang.

Mereka inilah yang kemudian berperan dalam Pembangunan Cirebon dan juga syiar Islam di wilayah Jawa Barat. Bahkan kemudian Raden Walangsungsang menjadi pendiri sekaligus Pemimpin di Cirebon.
Peran Kiai Syekh Datuk Kahpi dan para santrinya kala itu dalam membangun kejayaan Cirebon tampak sangat menonjol. Islam di Cirebon kala itu berkembang pesat hingga mengalahkan agama yang lama, ternyata dibangun bukan dengan gerakan anarkis atau dengan perjuangan yang berdarah-darah. Kiai Syekh Datuk Kahpi mensyiarkan Islam dengan mewujudkan sabda Rasulullah saw., yakni dengan menebar citra bahwa Islam itu adalah agama yang menebar rahmatan lil ‘alamin.

Rupanya Kiai Syekh Datuk Kahpi paham benar tentang ajaran Islam sebagaimana yang di firmankan Allah SWT dalam Alquran Surat Al- Qashash:77 yang terjemahannya berbunyi, “…dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan“.

Di bawah ini merupakan silsilah Syekh Datuk Kahfi yang bersambung dengan Sayyid Alawi bin Muhammad Sohib Mirbath hingga Ahmadal-Muhajir bin Isa ar-Rumi (Hadramaut, Yaman) dan seterusnya hingga Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW yang syahid terbunuh dalam pembantaian di Padang Karbala, Iraq.

Nabi Muhammad SAW, berputeri

    * Sayidah Fatimah az-Zahra menikah dengan Imam Ali bin Abi Thalib, berputera
    * Imam Husain a.s, berputera
    * Imam Ali Zainal Abidin, berputera
    * Muhammad al-Baqir, berputera
    * Imam Ja’far ash-Shadiq, berputera
    * Ali al-Uraidhi, berputera
    * Muhammad al-Naqib, berputera
    * Isa al-Rumi, berputera
    * Ahmad al-Muhajir, berputera
    * Ubaidillah, berputera
    * Alawi, berputera
    * Muhammad, berputera
    * Alawi, berputera
    * Ali Khali’ Qosam, berputera
    * Muhammad Sahib Mirbath, berputera
    * Sayid Alwi, berputera
    * Sayid Abdul Malik, berputera
    * Sayid Amir Abdullah Khan (Azamat Khan), berputera
    * Sayid Abdul Kadir, berputera
    * Maulana Isa, berputera
    * Syekh Datuk Ahmad, berputera
    * Syekh Datuk Kahfi

Syekh Datuk Kahfi wafat dan dimakamkan di Gunung Jati, bersamaan dengan makam Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), Pangeran Pasarean, dan raja-raja Kesultanan Cirebon lainnya. 


 

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

 Subscribe in a reader

Add to Google Reader or Homepage

Powered by FeedBurner

Waris Djati

↑ Grab this Headline Animator

My Ping in TotalPing.com Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software DMCA.com Literature Blogs
Literature blog Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! free web site traffic and promotion Submitdomainname.com Sonic Run: Internet Search Engine
eXTReMe Tracker
free search engine website submission top optimization